nnur

Hamba Allah.Istri.Anak.Ibu.Dosen.Pengelola OAI UII

Archive for the ‘Smart Parents’ Category

Separuh waktu Ramadhan telah berlalu, dan alhamdulillah hingga hari ini, Allah masih memberikan kekuatan kepada saya & suami untuk menjalankan ibadah puasa. Dan berbeda dari Ramadhan-Ramadhan tahun sebelumnya, tahun ini -alhamdulillah- saya dan suami bisa sahur dan berbuka bersama-sama, karena kami telah serumah (setelah sebelumnya berlainan kota).

Bagi saya, momentum bahagia ini patut disyukuri; bukan hanya dengan lisan, tapi juga dengan perbuatan. Apa maksudnya? Ya, for special events, I prepare special foods: saya memasak seluruh makanan yang masuk ke perut kami.
** Apa bedanya dengan 'masakan para single'?
Saat masih single dulu, fokus utamanya khan "yang penting makan", sehingga kadang-kadang 1X masak tapi untuk 2X makan (berbuka+sahur). Nah sekarang beda, karena saya selalu memasak setiap kali hendak makan: sore sebelum berbuka, dan dini hari sebelum sahur.

** Apa enggak lama & merepotkan?
Hehe...relatif; waktu untuk memasak berkisar 15-45 menit; tergantung jenis masakan. Paling cepat masak sayur bening bayam dengan lauk tempe/chicken nugget goreng (klo goreng tahu butuh waktu lebih lama). Yang jelas, waktu yang 'dikorbankan' akan sama dengan waktu 'mengantri di warung makan'. Dan ada nilai plus-nya pula: saya tahu pasti kesegaran bahan dan higienitas masakan, terutama dari sisi minyak goreng. Tentu, nilai minusnya terletak pada perabot masak yang perlu dicuci (klo beli di warung khan panci+wajannya enggak bakalan kotor:).

Satu lagi, untuk menghemat waktu penyiapan makan sahur, kadang2 sayur perlu dipotong dulu pas malamnya; jadi ntar sebelum sahur cukup didihkan air+masukkan sayur satu persatu. Saya sendiri mengawali memasak dengan mengurus lauk terlebih dulu; contoh praktisnya gini:

(more…)

Akhir Juni 2009 ini, alhamdulillah, keinginan untuk memperoleh rumah sendiri telah dimudahkan oleh Allah.  Dari baca-baca beberapa literatur (terutama www.perencanakeuangan.com), kami jadi mantap untuk membeli rumah tahun ini juga, tidak perlu nunggu duit terkumpul segunung. Memang sih, prosesnya enggak sesederhana dan secepat membalik telapak tangan, tetapi meski tidak berduit banyak, Allah masih mengizinkan saya untuk mencoba "berhutang":) Yang jelas, hutang dihalalkan dalam Islam, dan saya yakin benar dengan sebuah hadits (saya lupa matan-nya) yang menjelaskan bahwa Allah akan membantu para hamba-Nya yang berhutang selama hamba tsb benar-benar berniat hendak membayar hutang. Dilihat dari nominal kredit yang cukup besar, saya pun mantap 100% ambil KPR (Kredit Perumahan Rakyat?), enggak pinjam ke teman/saudara. Meski jelas ada selisih, tapi saya tidak perlu ambil resiko terhadap tali silaturrahim yang telah terjalin. Bahkan, saya juga langsung mantap ambil KPR di bank syariah. Dan oleh karena sharing tt KPR syariah di internet tidak begitu banyak, bolehlah sekarang saya ikut berbagi cerita🙂

Mengapa KPR di Bank Syariah?
Setelah sedikit survai di internet tentang perbedaan skema KPR konvensional dan KPR syariah, tentu kita semua akan mendapati bahwa jenis "rate" KPR sangat beragam; ada istilah flat, efektif, p.a dsb. Bagi saya sih kita cukup tahu saja, tak perlu berpusing-pusing ria. Intinya, rate KPR syariah memang berkisar antara 7,5% - 10%, sedangkan rate KPR konvensional 14%-19%. Apakah KPR syariah jauh lebih murah? Oh, belum tentu. Rumus perhitungan rate ada sendiri, dan cukup jadi pedoman konversi (lagi-lagi dari hasil baca2 di internet), besar angsuran 8% KPR syariah ekivalen dengan 14,5%-14,7% KPR konvensional. Dan sekali lagi, "penemuan" ini pun tidak perlu menyurutkan niat kita untuk ambil KPR syariah. Bagi kita sebagai muslim, AQAD itu jauh lebih penting; aqad kemitraan di bank syariah jelas halalnya, sedangkan aqad hutang berbunga di bank konvensional jelas ribanya.

"Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..." (Al-Baqarah: 275)

Bagaimana prosedur KPR syariah dan berapa lama?
Karena keterbatasan waktu, saya cuma sempat survai ke dua bank syariah.

(more…)

Membiayai Anak = Beban (?)

#1
Kemarin, saya bertemu dengan seorang kawan lama. Dari hasil ngobrol ngalor-ngidul, sampailah kami pada sebuah topik tentang "Sudah nambah anak belum?" Ketika saya balik bertanya, ia langsung merespon, "Nggak! Dua anak sudah cukup bagi kami." Tanpa perlu ditanya lagi, ia melanjutkan, "Memang sih, setiap anak khan ada rezekinya. Untuk sampai melahirkan sih, biayanya ga seberapa. Tapi seterusnya itu lho, khan biaya makin banyak" Duh, miris sekali mendengarnya. Ia mencontohkan, ketika kedua anaknya masuk TK, biaya sekolahnya sampai X ribuan. Yach, karena juga sama-sama ortu, saya malah menimpali, "anak saya, di baby school, malah Y rupiah per bulan." Terkesan sombong ya, tapi saya cuma ingin menunjukkan bahwa saya juga paham bahwa "menyekolahkan anak = mbayar" Hehehe...

Saya tiba-tiba teringat dengan salah satu post di sebuah milis yang intinya menceritakan kesusahan seorang bapak yang ditolak bank ketika mau meminjam uang untuk sekolah anaknya. Hmm... sebegitu susahkah membiayai sekolah anak?

#2
Di penghujung tahun 2008, ketika sedang antri customer service sebuah bank, saya tertarik dengan kata-kata bijak, "Kerja keras tidak berarti kaya" dan "Kebodohan pangkal kemiskinan". Anda tahu dimana kira2 kata-kata bijak tersebut dipasang? (more…)

  • 8 Comments
  • Filed under: Smart Parents
  • Desember ini adalah bulan spesial bagi saya. Mengapa? Telah genap satu tahun saya berstatus sebagai semi single-parent. Artinya? Ya, qodarullah, alhamdulillahi 'ala kulli hal, saya dan suami tinggal berlainan kota. Selain itu, setahun lalu, saya memutuskan untuk tidak memakai jasa nanny/pembantu lagi. Mungkin terdengar berlebihan, tapi tentu setiap orang akan maklum bahwa seringkali azzam (tekad) bisa mengalahkan apapun. Cita-cita saya cuma satu: menjadi ibu terbaik untuk anak saya. Saya terobsesi dengan ibu-ibu zaman dahulu; mengurus rumah dan anak dengan tangannya sendiri, dan terbukti mereka mampu; jadi, mengapa saya tidak mencoba, toh bekerja di luar rumah juga tidak full seharian?!

    Ketika hamil, saya terinspirasi dengan buku mungil berjudul "Memahami bahasa bayi". Satu nasihat berharga yang saya ingat sampai sekarang adalah: "Ketika memiliki bayi, jangan pernah berpikir menjadi super woman: mengurus bayi+mencuci+mengurus rumah+memasak+++ dengan sikap perfeksionis. Seorang ibu juga tidak perlu malu untuk meminta bantuan orang lain jika sewaktu-waktu memang dibutuhkan." Dan setelah lahirnya anak pertama, saya kian menyadari bahwa terkadang kita memang memiliki keterbatasan waktu+tenaga+pikiran...Mengurus rumah termasuk pekerjaan berdurasi 24 jam (alias ga pernah selesai tuntas), dan sangat mustahil jika kita menggendong bayi sambil bersih-bersih, sambil ini itu. Kita perlu mempelajari satu hal: skala prioritas. Dan apakah yang menjadi prioritas utama bagi wanita yang baru punya bayi? Ya, betul: anak adalah nomor dua (nomor satu: Allah 🙂
    (more…)

    Ketika musibah tak bisa dihindari

    #1
    Dalam semester ini, terdapat setidaknya lima mahasiswa saya yang terkena musibah kecelakaan sepeda motor (ditabrak atau menabrak). Dua orang dari kelas kuliah reguler sehingga salah satunya terpaksa tidak masuk kuliah selama 4 minggu. Sedangkan tiga orang lagi adalah mahasiswa bimbingan KP saya, sehingga tugas KP mereka terpaksa baru selesai ketika mendekati hari H deadline. Saya sampaikan ke mereka untuk bersabar, karena musibah sakit akan mengurangi dosa-dosa kita. Apalagi jika kita sabar, insya'Allah dosa-dosa akan makin berkurang lagi. Saya agak lupa dalilnya. Ada yang mau bantu?

    Dari sisi psikologi (dari yang saya baca-baca), para ahli kejiawaan biasanya mengatakan: hadapilah musibah dengan berpikiran positif, agar tidak terlalu sakit (baik fisik maupun mental). Boleh juga sisi pandang ini dijadikan penghibur, tapi selayaknyalah setiap muslim TERLEBIH DULU harus berorientasi akhirat: ujian berupa musibah akan mengurangi dosa. Begitu indah ya...sampai-sampai Rasulullah bersabda, "Sungguh indah perkara orang-orang mu’min itu, terdapat kebaikan baginya dalam segala hal dan ini hanya untuk orang-orang mu’min. Apabila ia mendapat nikmat, maka ia bersyukur kepada Allah dan hal itu baik untuknya. Bila ia mendapat musibah, maka ia bersabar dan hal itu lebih baik baginya." (HR Muslim)

    #2
    Tiga hari ini, saya mendapat musibah berupa sakit flu; dan seperti yang kita tahu, flu tidak hanya menyebabkan hidung mampet atau batuk, tapi juga menyebabkan sakit kepala. Hal terakhir inilah yang lebih menganggu dalam beraktivitas; sehingga beberapa jadwal kegiatan perlu saya tunda. Sekali-kali istirahatlah 🙂 Kata banyak dokter, flu disebabkan oleh virus; tidak ada obatnya, karena ntar juga sembuh sendiri jika daya tahan tubuh kita membaik. Jadi, sakit adalah sebuah sinyal bahwa tubuh kita perlu istirahat. Dosa bisa berkurang (insya'Allah) plus take a rest for a while 🙂

    Flu juga membuat daya konsentrasi saya berkurang. Dan dari yang pernah saya baca (saya lupa dimana), salah satu tips untuk menjaga agar otak kita tetap sehat dan kemampuan otak tidak menurun adalah tidak memforsir otak ketika kita sedang sakit. Saya belum tahu penjelasan medisnya, tetapi logika saya membenarkan hal tersebut: ketika tubuh sakit, otak juga ikut prihatin. Jika otak dipaksa bekerja, ya kemampuan otak lambat-laun akan berkurang. Biarlah syaraf-syarafnya ikutan rehat juga 🙂

    (more…)