Bada Subuh di hari Jumat(21 Oktober 2011), kami mendengar ada kucing kecil yang meong-meong di atas eternit rumah. Ia terus-menerus mengeong sehingga kami kira ia menjerit-jerit kesakitan. Jam 6 pagi suami mengambil tangga dan membongkar eternit. Satu jam kemudian, suami turun membawa bayi kucing yang baru lahir, seukuran segenggam tangan, matanya masih merem, dan telapak kaki kanan belakangnya menghitam karena terlilit tali. Segera saja kedua anak balitaku cepat akrab dengan kucing itu. Bahkan demi mendengar meong-meong si bayi kucing, anakku si Yusuf pun ikut menangis kencang dan lama sekali. Meski laki-laki, ia sepertinya punya perasaan yang halus. Agar si kucing tenang (dan anakku ikut tenang), dengan spontan kuambil sesendok susu bubuk milik Yusuf (22 bulan) dan kucampur air lalu kuminumkan ke kucing itu.

Hari itu, pekerjaanku banyak sekali; rencana mau ke dokter hewan, tapi waktu tidak mencukupi. Setelah submit tugas ke kantor jam 15.30, Allah memberiku hidayah untuk membawa si kucing ke Bu Wayan, peternak kucing Persia yang rumahnya tidak seberapa jauh. Semula saya sempat ragu, karena bayi kucing yang kubawa adalah bayi kucing kampung sedangkan beliau punya banyak kucing peranakan di rumahnya. Tapi alhamdulillah, ia dan putrinya sangat welcome. Mereka malah mengajak si bayi kucing ini untuk menyusu ke si induk Chika yang baru saja melahirkan. Selain itu, ada beberapa tips perawatan yang ia bagi ke kami:
1. Kedua mata bayi kucing akan mulai membuka pas umur 7 hari.
2. Bayi kucing tidak boleh dimandikan kecuali minimal berumur 3 bulan.
3. Bayi kucing bisa makan makanan padat setelah 1 bulan, sehingga saya perlu mensuplai susu sebelum ia berumur segitu.
4. Susu bubuk yang dia rekomendasikan adalah SGM LLM+ (bebas laktosa) untuk bayi manusia 0-6 bulan.
5. Pemberian susu dengan pipet suntikan ukuran terkecil (tulisannya pipet insulin, harga 3000 rupiah).
6. Pipet susu dimasukkan lewat mulut bagian samping, bukan dari depan (mungkin untuk mencegah tersedak).

(more…)