Berawal dari ketidaksengajaan menemukan buku Robert T. Kiyosaki di bangku perpustakaan 2 hari yl, kini, setelah dibaca, isinya ternyata lumayan. Sengaja saya tulis ulang dalam bentuk kutipan pada bagian2 -yang menurut saya penting-, bukan resensi, karena saya merasa belumlah ahli dalam soal "kecerdasan finansial" seperti pesan buku tersebut. Semoga bermanfaat!

Sebagai pengantar: Buku ini menceritakan 2 "ayah" Robert T. Kiyosaki, yakni ayah kandungnya -sebagai kepada dinas pendidikan di Hawaii, yang berpendidikan tinggi, tapi tidak mengajarkan -yang disebut Robert- intelegensi finansial, dan meninggal dunia tanpa meninggalkan sepeser uang. Ayahnya ini dipanggilnya "poor dad" karena dianggapnya tidak melek finansial. Sedangkan ayah ke-2, sebenarnya adalah ayah temannya (nama temannya adalah Mike) yang ketika mereka berdua masih berumur 9 tahun, "ayah" tsb ( disebutnya "rich dad") mulai berbisnis banyak (toko, konstruksi, restoran) dalam skala kecil, dan meninggal dalam keadaan mewariskan imperium bisnis kepada anaknya, si Mike.

========================

Rich Dad, Poor Dad: Apa yang diajarkan orang kaya pada Anak-anak Mereka tentang Uang -yang Tidak Diajarkan oleh Orang Miskin dan Kelas Menengah!
Robert T. Kiyosaki bersama Sharon L.Lechter C.P.A
Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, 2006 Cetakan ke-21
Aslinya: Copyright @1997, 1998

Hal 29:
"Jadi, apa yang akan memecahkan masalah?", tanya saya. "Menerima begitu saja uang 10 sen yang amat kecil ini dan tersenyum?"

Ayah saya yang kaya tersenyum,"Itulah yang dilakukan oleh banyak orang. Mereka dengan pasrah hanya menerima slip gaji karena tahu bahwa tanpa itu, mereka sekeluarga akan kesulitan secara finansial. Tetapi hanya itu yang mereka lakukan, menanti kenaikan upah dengan berpikir bahwa uang yang lebih banyak akan memecahkan masalah. Kebanyakan hanya menerimanya, dan sebagian mencari pekerjaan sambilan untuk bekerja lebih keras, tapi lagi-lagi menerima upah yang kecil".

Saya duduk memandangi lantai, mulai memahami pelajaran yang diberikan oleh ayah saya yang kaya. Saya bisa merasakan inilah rasanya kehidupan. Akhirnya saya memandang ke atas lagi dan bertanya, "Jadi, apa yang akan memecahkan masalah?"

"Ini", katanya sambil menepuk kepala saya perlahan-lahan. "Benda di antara kedua telingamu ini."

(more…)