Separuh waktu Ramadhan telah berlalu, dan alhamdulillah hingga hari ini, Allah masih memberikan kekuatan kepada saya & suami untuk menjalankan ibadah puasa. Dan berbeda dari Ramadhan-Ramadhan tahun sebelumnya, tahun ini -alhamdulillah- saya dan suami bisa sahur dan berbuka bersama-sama, karena kami telah serumah (setelah sebelumnya berlainan kota).

Bagi saya, momentum bahagia ini patut disyukuri; bukan hanya dengan lisan, tapi juga dengan perbuatan. Apa maksudnya? Ya, for special events, I prepare special foods: saya memasak seluruh makanan yang masuk ke perut kami.
** Apa bedanya dengan ‘masakan para single’?
Saat masih single dulu, fokus utamanya khan “yang penting makan”, sehingga kadang-kadang 1X masak tapi untuk 2X makan (berbuka+sahur). Nah sekarang beda, karena saya selalu memasak setiap kali hendak makan: sore sebelum berbuka, dan dini hari sebelum sahur.

** Apa enggak lama & merepotkan?
Hehe…relatif; waktu untuk memasak berkisar 15-45 menit; tergantung jenis masakan. Paling cepat masak sayur bening bayam dengan lauk tempe/chicken nugget goreng (klo goreng tahu butuh waktu lebih lama). Yang jelas, waktu yang ‘dikorbankan’ akan sama dengan waktu ‘mengantri di warung makan’. Dan ada nilai plus-nya pula: saya tahu pasti kesegaran bahan dan higienitas masakan, terutama dari sisi minyak goreng. Tentu, nilai minusnya terletak pada perabot masak yang perlu dicuci (klo beli di warung khan panci+wajannya enggak bakalan kotor:).

Satu lagi, untuk menghemat waktu penyiapan makan sahur, kadang2 sayur perlu dipotong dulu pas malamnya; jadi ntar sebelum sahur cukup didihkan air+masukkan sayur satu persatu. Saya sendiri mengawali memasak dengan mengurus lauk terlebih dulu; contoh praktisnya gini:


1. Panaskan minyak di wajan
2. Potong2 tempe dan celupkan ke air garam. Setelah minyak panas, langsung masukkan (urutan no 1 & 2 ga terbalik lho!)
Sambil nunggu tempe goreng masak, saya motong2 sayur dgn cepat.
3. Didihkan air.
4. Sembari nunggu air mendidih, lanjutkan potong2 cepat daun sayuran. Agar matang lebih cepat, hanya pilih bagian daun (misal bayam: daun bayam saja yang dimasak, ga perlu batangnya sekalian; lama memasak daun & batang berbeda lho).

** Apa ya enak?
Saya bukan koki, dan jarang upgrade pengetahuan memasak. Bumbu yang dipakai juga ‘by default’: bawang merah, bawang putih, gula dan garam serta Royco cair. Lagipula, enak nggak enak khan relatif; klo pas buka, semua akan terasa enak (karena perut lapar). Standar saya juga mudah: jika balita saya mau makan, berarti masakan uminya enak:) Kadang-kadang ialah yang menjadi tukang cicip rumah kami. Dan klopun ga enak, ada jurus pamungkas: buat sambal uleg! (karena sambal pedas memicu kita untuk terus dan terus makan hehe)

** Apa menunya nggak membosankan?
Saya memang bukan ahli masak; saya juga cuma tahu sedikit tentang variasi sayur:
1. Berkuah sedikit: tumis
2. Berkuah banyak: sayur bening, sayur asam, sayur sop.
3. Bersantan: kuah kuning, kuah semu merah (spt sayur nangka)
4. Nggak berkuah: nasi goreng, mie goreng, pecel.

Nah, disinilah letak “kecerdasan ibu” berperan. Meski rasa sayur sama, isi sayurannyalah yang berbeda. Saya ambil contoh kangkung: bisa ditumis, disayur asam, bahkan disayur kuah agak pedas. Bahkan, ayam goreng misalnya; selain untuk lauk, juga bisa ‘disulap’ menjadi soto. Buah pisang juga; selain langsung dimakan, pisang juga bisa dibuat kolak, digoreng dan dikukus (standar atau ditaburi meses).

** Apa mesti sehat?
Dalam sebuah buku tentang sifat makan Nabi, diceritakan bahwa Rasulullah tidak pernah memasak makanan kemarin (yang dihangatkan). Nasihat dokter, minyak goreng cukup dipakai 1-2X goreng dan sisanya dibuang (biar hemat, pakai sedikit-sedikit saja, jangan banyak sekaligus). Sayuran juga tidak dimasak terlalu lunak, agar masih ada seratnya serta minyak yang dipakai untuk tumis juga tidak perlu banyak-banyak (pakai margarin lebih praktis). Lemak yang ada di daging sapi dan kulit daging ayam juga bisa dibuang sebelum dimasak; toh lemak tsb juga ga bisa dicerna tubuh. Semua ini bisa dikontrol jika kita yang memasak sendiri. Jadi, sehat kan?

** Apa nggak mahal?
Untuk minuman, jika beli segelas kolak/dawet di Jogja, kita cukup mengeluarkan Rp1.000-3.000. Itupun kadang-kadang tercampuri dengan pemanis buatan yang bikin tenggorokan serak. Klo masak sendiri, butuh bahan: 1 pack santan instan Kara (Rp1.500) & gula merah (+- Rp500) & isi (kolang-kaling,nata de coco, dawet, cin-cau, dsb) bisa Rp 4000. Minimal memang butuh biaya “set-up” minimal Rp6.000, tapi dapatnya bergelas-gelas euy, sehat lagi.

Untuk sayur&lauk, 1/4 kg ayam (Rp7.000) berisi 3 potong paha ayam ukuran besar yang dimasak kuah soto + 1 pack bumbu instan (Rp2000-4000) dijamin bisa mengenyangkan 2 perut. Sebagai contoh, saya yang sedang hamil 6 bulan + suami (laki-laki) makan suwiran 2 potong paha pun sudah sangat kekenyangan. Coba bandingkan dengan beli 2 porsi soto di warung. Intinya, biaya “set-up” masak sendiri memang lebih mahal, sehingga pola “masak 1X u/ 1X makan” ini enggak cocok buat single (kecuali klo patungan dengan teman :).

Nah, menurut saya, pola masak cepat+sehat ini perlu diimbangi dengan pola makan yang benar. Imbangi dengan minum minimal 2 liter per hari. Bahkan saya yang sedang hamil inipun ‘mewajibkan diri’ untuk minum 1,5 liter air sewaktu berbuka + 1 liter sewaktu sahur. Sumber air bisa beragam, mulai dari kuah sayur hingga dawet/kolak; yang jelas, bukan teh/kopi (karena merangsang pengeluaran air kemih) dan proporsi air putih harus tetap banyak.

Sampai Ramadhan hari ke-18, pola masak seperti ini alhamdulillah tetap menjaga saya (+janin) & suami sehat. Bahkan 2 hari yl, dokter kandungan saya pun menyarankan agar saya meneruskan puasa; “yang penting tidak lupa sahur, meski merasa kuat”, katanya. Ukuran janin pun sesuai dengan umurnya, alhamdulillah..

Selamat melanjutkan puasa… :)