$theTitle=wp_title(" - ", false); if($theTitle != "") { ?>
Hamba Allah.Istri.Anak.Ibu.Dosen.Pengelola OAI UII
13 Aug // php the_time('Y') ?>
Ketika mengajar Semester Pendek 2008/2009 kemarin, saya mendapat inspirasi untuk meningkatkan semangat sekaligus mengusir kejenuhan saya dan mahasiswa. Maklumlah, materi SP khan materi pengulangan dari semester reguler (dan seharusnya kita beraktivitas lain atau berlibur, bukan malah masuk ruang kuliah hehehe).
Inspirasi diambil dari buku Revolusi Cara Belajar (edisi Indonesia dari “The Learning Revolution” karya Gordon Dryden & Dr. Jenannete Vos). Poster sebesar A3 ini didisain oleh Adri, mahasiswa Teknik Informatika angkatan 2006 dan saya tempelkan di ruang kuliah (temporer, hanya sewaktu SP berlangsung).
Sebagai penjelas, saya sampaikan kepada mahasiswa bahwa meski riwayat nilai mereka di mata kuliah yang diulang (saya mengajar Basisdata) adalah buruk (E, D, C, atau terkadang B) sehingga mungkin seluruh mahasiswa berusaha mengejar untuk mendapatkan A, saya minta mereka untuk berusaha berpikir lebih dalam. Beroleh nilai bagus memang menyenangkan (&mungkin membanggakan), namun segala keinginan haruslah disesuaikan dalam koridor kemauan & kemampuan. Bukanlah kewajiban bagi mereka untuk menjadi ahli dan mendapat A dalam seluruh mata kuliah (jaringan, basisdata, AI, dsb); sehingga bisa jadi mereka termasuk yang memiliki “core skill” bukan di basisdata. Bahkan, jika bisa dikatakan lebih ekstrim lagi, mahasiswa Informatika bisa jadi hanya tertarik pada sebagian kecil mata kuliah (misalnya karena merupakan keturunan pebisnis, mereka cuma tertarik dengan kewirausahaan; sehingga matakuliah ke-informatika-an hanya menjadi bumbu pelengkap).
Dan tentu saja… meski saya melarang untuk berkecil hati jika kelak nilai SP mereka tak sesuai harapan atau bahkan ga sampe ke “A”, saya minta mereka untuk memperhatikan matakuliah ini. Mahasiswa Informatika UII dididik untuk bisa menguasai skill-skill ke-informatika-an, termasuk basisdata sebagai matakuliah dasar; sehingga lulus dengan nilai E dan D tidaklah cukup untuk menjadi sarjana Informatika! Saya katakan dengan tegas bahwa di awal kuliah, semua nilai di-set default ke A; nilai baru akan di-downgrade jika mereka melakukan kesalahan, misalnya: salah menjawab ujian, salah karena cuma duduk-diam-dengar-di kelas, salah karena ga pernah masuk kuliah dsb. Terdengar konyol? Tentu tidak! Mana mungkin dosen set default ke E, baru di-upgrade? Secara psikologis, hal itu sangat membosankan dan bisa melemahkan semangat
Namun, semua rencana sempurna saya tetap bisa memunculkan kasus terburuk…yakni nilai mereka malah lebih jauh jelek daripada semester reguler; sebagai dosen, saya sudah berusaha membuka seluruh kran komunikasi sebisa mungkin jika terdapat kesulitan dalam kuliah. Hasil akhir hanyalah Allah yang tahu. Meski demikian, saya sudah siapkan poster kedua tentang musibah:
5 Responses for "Apakah kita harus selalu mendapat nilai A?"
judul dlm bentuk pertanyaan tu mengingatkan sy pd kelalaian sy di semstr 2 bu’ T-T
Kadang inspirasi membuat kita berhayal ga karuan,tapi yang satu ini bener2 sumber inspirasi yang berisi dan mendalam………yach,setiap insan memiliki kemampuan terbatas sehingga kita ga boleh ambisi untuk bisa berbagai keterampilan….artinya,walaupun hanya pada satu bidang,namun dikuasai maka itulah nilai yang bisa kita syukuri lebih dari cukup………….
by: nur,,,
Sip!
Superman saja enggak bisa berbahasa Indonesia…
Supermom saja enggak bisa menjadi superdad hehehe
Apalagi superkids; pasti enggak bisa menjadi supermom/superdad…
Allah sudah menciptakan kita dalam berbagai bentuk dan berbeda tingkat kemampuan. Alhamdulillah…
Bu dosen… tapi menurut saya, kalau si mahasiswa itu memang sungguh2 belajarnya.. saya yakin dia akan meraih nilai maksimal… saya pribadi selalu jadi yang terbaik… dan itu bukan karena mahasiswa lain teman sekelas saya bodoh… tapi mereka hanya malas saja: malas berpikir dan bekerja keras. Saya yang kalo di rumah harus kerja bantu2 orangtua, kerja sambilan, dan aktiv di beberapa organisasi… tapi tetap bisa menunjukkan prestasi terbaik saya: menjadi jawara IP di kelas tiap semesternya. Maaf, ini hanya sekedar sharing… bukan bermaksud apa2, melainkan hanya ingin menyampaikan, kalau mau berhasil ya harus kerja keras. Jadi kalau gagal, mungkin bukan salah dosen, atau pun otak yang kurang cerdas… tapi kerja keras kita yang kurang. Salam…
Silahkan kunjungi blog saya: http://www.linguistmoslem.blogspot.com
Yang penting itu proses dalam mencari ilmu.
Leave a reply