#1
Kemarin, saya bertemu dengan seorang kawan lama. Dari hasil ngobrol ngalor-ngidul, sampailah kami pada sebuah topik tentang "Sudah nambah anak belum?" Ketika saya balik bertanya, ia langsung merespon, "Nggak! Dua anak sudah cukup bagi kami." Tanpa perlu ditanya lagi, ia melanjutkan, "Memang sih, setiap anak khan ada rezekinya. Untuk sampai melahirkan sih, biayanya ga seberapa. Tapi seterusnya itu lho, khan biaya makin banyak" Duh, miris sekali mendengarnya. Ia mencontohkan, ketika kedua anaknya masuk TK, biaya sekolahnya sampai X ribuan. Yach, karena juga sama-sama ortu, saya malah menimpali, "anak saya, di baby school, malah Y rupiah per bulan." Terkesan sombong ya, tapi saya cuma ingin menunjukkan bahwa saya juga paham bahwa "menyekolahkan anak = mbayar" Hehehe...

Saya tiba-tiba teringat dengan salah satu post di sebuah milis yang intinya menceritakan kesusahan seorang bapak yang ditolak bank ketika mau meminjam uang untuk sekolah anaknya. Hmm... sebegitu susahkah membiayai sekolah anak?

#2
Di penghujung tahun 2008, ketika sedang antri customer service sebuah bank, saya tertarik dengan kata-kata bijak, "Kerja keras tidak berarti kaya" dan "Kebodohan pangkal kemiskinan". Anda tahu dimana kira2 kata-kata bijak tersebut dipasang? Ya, di meja "financial advisor" 🙂 Akhirnya, sembari nunggu CS, saya iseng-iseng bertanya ke financial advisor; dari sekian banyak hal yang disampaikan, satu hal yang sangat saya ingat, "kenaikan biaya pendidikan melebihi kenaikan biaya hidup". Contoh simpel saja, zaman doeloe, untuk daftar ulang ke SMUN terfavorit di kota, bapak saya mengeluarkan biaya sekitar Rp150.000; dah termasuk seragam lho. Hari gini, biaya masuk SMU sudah bukan lagi kisaran ratusan ribu, tapi dah masuk jutaan.

#3
Saya mencoba mengingat-ingat masa lalu. Saat ini, saya adalah ibu sekaligus anak; untuk biaya sekolah S2, saya sudah tidak minta lagi ke ortu. Tapi, doeloe, sejak SD sampai kuliah S1, biaya sekolah ditanggung penuh oleh bapak. Alhamdulillah, karena bukan anak gedongan, jadi saya sedikit mengetahui kerepotan bapak agar bisa membayar tagihan on time; malu lah kalo nunggak. Alhamdulillah bapak termasuk orang yang sangat mendukung agar anak-anaknya bisa sekolah tinggi, bahkan harus melebihi jenjang pendidikan bapak. Prinsipnya sederhana: "masa' kualitas anak hanya sederajat dengan bapaknya?" Tentu, kadang-kadang bapak juga bilang terus terang, bahwa kondisi keuangan keluarga sedang begini begitu; tetapi tidak pernah sekalipun keluar pertanyaan kenapa biaya sekolah mahal, atau penyesalan karena "terlanjur" menyekolahkan anak-anaknya.

Saya juga teringat bagaimana ketika dulu bapak tidak membolehkan saya mengurus beasiswa (kecil-kecilan sih) sewaktu kuliah S1. Penyebabnya sepele: sewaktu semester 2 apply beasiswa, saya ditolak. Padahal untuk apply tersebut, bapak harus mengurus surat2 ke kelurahan. Pikir bapak saya, "sudah repot2 ngurus, eh ga ditrima. Ya sudah, ga usah ngurus lagi, toh bapak masih sanggup mbayari kuliah!" Hehehe...

Saya jadi membayangkan (flash back) bagaimana jika dulu bapak sempat mengeluh terang-terangan kepada saya, "Lihat, Nak! Bapak sudah mengeluarkan duit sekian banyak buat sekolah kamu. Sekolah itu mahal bla bla. Kamu itu cuma menghabiskan duit bla bla. Lebih baik duitnya buat beli ini itu bla bla". Dengan mencoba berempati, -sebagai anak- saya terus terang merasa sedih jika benar-benar mendengar keluhan semacam ini. Down..ill feel...desperate...

Banyak hikmah dari banyak kejadian ini:
1. Secara umum, biaya sekolah formal memang mahal, dan tetap akan terus naik. Justru di sinilah peran "kecerdasan finansial" orang tua: mau siap-siap atau cuma berdiam diri? Kalau mau siap-siap, ya menabunglah sejak anak masih kecil; toh di sekitar kita, marak investasi berjenis "tabungan pendidikan", baik disediakan bank, asuransi, dll. Yang penting diingat: tidak ada jaminan bahwa kita akan berumur tua, selalu sehat, atau selalu berkecukupan.

2. Penghargaan atas kerja keras ortu (& sekaligus uang yang didapat) tidak harus diajarkan dalam bentuk "keluhan" atas besarnya anggaran untuk anak. Anak juga punya hati dan emosi. Kalau bukan orang tua yang menanggung, lalu siapa lagi? Minta ke nenek? Atau apa kita harus menyuruh anak untuk bekerja dalam usia dini? Atau ga usah punya anak sekalian, agar kita ga usah ngeluarin duit? Saya masih ingat perkataan seorang dokter anak, "Serepot-repotnya orang punya anak, orang yang enggak punya anak jauh lebih repot!".

3. Sejatinya, anak bukan hanya butuh biaya sekolah, tapi juga butuh (anggaran) untuk makan, pakaian, mainan, dsb. Secara umum, tujuan utama orang bekerja khan peningkatan kualitas hidup; kalau sudah enggak ada persiapan dana sekolah (biasanya ini paling besar), ya jangan memaksakan diri untuk mencari sekolah yang "bergengsi".

4. Anak adalah amanah dari Allah, jadi bukan beban yang memberatkan. Toh semua orang tahu bahwa anak juga memberi banyak kepada kita dan rumah kita! Kelak, kita akan ditanya oleh Sang Khaliq tentang perlakuan kita terhadap mereka. Pun, kita hanya bisa berencana, entah nanti taqdirnya gimana, kita khan belum tahu kalau belum terjadi. Justru kalau kita bersikap "membatasi" rizki dan berburuk sangka kepada Allah (dengan menganggap gaji kita hanya mampu membiayai 2 anak), maka bisa jadi seberapapun penghasilan, ya ujung-ujungnya cuma bisa untuk itu saja. Berhati-hatilah dengan tipuan dunia! WaLlahu a'lam.