Desember ini adalah bulan spesial bagi saya. Mengapa? Telah genap satu tahun saya berstatus sebagai semi single-parent. Artinya? Ya, qodarullah, alhamdulillahi 'ala kulli hal, saya dan suami tinggal berlainan kota. Selain itu, setahun lalu, saya memutuskan untuk tidak memakai jasa nanny/pembantu lagi. Mungkin terdengar berlebihan, tapi tentu setiap orang akan maklum bahwa seringkali azzam (tekad) bisa mengalahkan apapun. Cita-cita saya cuma satu: menjadi ibu terbaik untuk anak saya. Saya terobsesi dengan ibu-ibu zaman dahulu; mengurus rumah dan anak dengan tangannya sendiri, dan terbukti mereka mampu; jadi, mengapa saya tidak mencoba, toh bekerja di luar rumah juga tidak full seharian?!

Ketika hamil, saya terinspirasi dengan buku mungil berjudul "Memahami bahasa bayi". Satu nasihat berharga yang saya ingat sampai sekarang adalah: "Ketika memiliki bayi, jangan pernah berpikir menjadi super woman: mengurus bayi+mencuci+mengurus rumah+memasak+++ dengan sikap perfeksionis. Seorang ibu juga tidak perlu malu untuk meminta bantuan orang lain jika sewaktu-waktu memang dibutuhkan." Dan setelah lahirnya anak pertama, saya kian menyadari bahwa terkadang kita memang memiliki keterbatasan waktu+tenaga+pikiran...Mengurus rumah termasuk pekerjaan berdurasi 24 jam (alias ga pernah selesai tuntas), dan sangat mustahil jika kita menggendong bayi sambil bersih-bersih, sambil ini itu. Kita perlu mempelajari satu hal: skala prioritas. Dan apakah yang menjadi prioritas utama bagi wanita yang baru punya bayi? Ya, betul: anak adalah nomor dua (nomor satu: Allah 🙂
Saya kurang begitu ingat kejadian setahun ini. Tentu ada repot, capek, sedih, dan menangis. Dan pasti ada tertawa, istirahat, puas, bahkan bangga. Aktivitas berinternet berkurang, kegiatan bermain2 dengan si kecil pun bertambah. Semua kejadian memang begitu adanya: sunnatullah, balanced. Saya masih teringat bergonta-ganti penjadwalan sebagai full-day mom: kapan mencuci baju&piring, memasak, membereskan rumah, mengantar anak ke baby school, bekerja, belajar, bermain dengan anak, dsb. Semuanya berjalan sebagai trial & error, karena saya tidak berguru kepada siapapun. Saya memang telah dibantu oleh mesin cuci dan kulkas, tapi terkadang tetap muncul juga kondisi ketika kehadiran fasilitas tidak banyak membantu (misalnya sakit, overload). Dan disinilah kecintaan orang-orang terdekat menjadi sangat terasa. Suami yang selalu membesarkan hati, ibu yang sering menghibur, rekan-rekan kantor yang berusaha memahami posisi saya, serta mahasiswa yang bisa memaklumi bahwa ibu dosennya cukup sibuk meski saban hari tetap ke kampus sedari pagi hingga sore. SubhanaLlah...

Setahun telah berlalu, apa yang saya dapat dari kerja keras ini? BANYAK! Antara lain:
- Saya belajar lebih bersabar
- Hubungan saya dan anak menjadi lebih dekat (bagi saya, kualitas dan kuantitas waktu bersama anak adalah sama pentingnya)
- Saya bisa memahami kelebihan dan kekurangan anak
- Saya bisa mengajarinya tentang kemandirian, menghargai orang tua, dan berbagi.
- dll

Bukannya bermaksud sombong, tetapi terus terang banyak orang mengakui kelebihan anak saya dibandingkan teman seusianya. Saya berusaha untuk menekan rasa bangga karena hal itu hanyalah karunia Allah semata; jika sombong, berarti kufur nikmatlah saya; bisa-bisa nikmat tersebut dicabut. Saya juga tidak menghilangkan rasa bangga (nggak mungkin-lah), karena ia adalah darah daging kami. Sebaik-baiknya dia, dia tetap anak kami 🙂

Tetapi, jika diizinkan, bolehlah saya mengungkap satu kelebihan anak saya terkait dengan kebiasaan baiknya (bukan genotif lho). Sejak usia 1,5 tahun, putri saya sudah mampu berucap, "Umi, pipis.", sehingga ia tidak pernah ngompol lagi (kecuali jika cuaca sangat dingin). Sejak usia itu pula, ia tidak mau mengenakan diapers; bepergian ke kampung halaman (7 jam perjalanan) pun tidak. Dan terakhir, juga sejak usia tersebut, setiap berangkat ke babyschool, putri saya menjinjing tas kecil berisi tiga baju: kaos dalam, atasan, dan bawahan. Saya tidak perlu membawa dobel. Mungkin di antara Anda ada yang bertanya, "Apa hebatnya?"

Hehehe.... coba tengok anak-anak kecil di sekitar Anda; zaman sekarang, semua serba praktis. Banyak ibu -bahkan yang serumah dengan suami dan tidak bekerja di luar rumah- ikut-ikutan memakaikan diapers, sehingga sering dijumpai anak usia 2-3 tahun masih belum dapat 'toilet training'. Meski harga 1 diapers cuma 3ribu, tapi lagi-lagi semua kembali pada azzam menjadi ibu yang baik; selain nrima bahwa ngompol itu kebiasaan bayi, saya juga harus bisa melatihnya. Jangan dikira semuanya tanpa perjuangan keras lho, bahkan pernah pakaian sholat terkena pipis 🙂 Lalu, bagaimana caranya melatih anak untuk itu? Mungkin saya bisa membantu:
- Ketika anak mulai mengerti ucapan kita, ajaklah ia bercanda, "Wah, ngompol ya, Nak. Jadi bau dong:)"
- Ketika anak mulai bisa memberi tanda (sebelum 1 tahun), cermatilah pola request-nya. Contoh pada anak saya: Jika hendak pipis, tiba-tiba ia menangis tanpa sebab. Umi, segeralah gendong dia menuju kamar mandi ya!
- Menurut pengalaman, di usia 1 tahun, anak pipis hampir tiap 2 jam. Karena asyiknya bermain, terkadang si anak lupa pipis; nah, tugas kitalah untuk mengingatkan, "Anakku, pipis yuk.. Nanti ngompol lho".
- Beritahu pembantu atau guru di baby school bahwa anak kita tidak memakai diapers. Kita tidak perlu segan, toh mereka memang digaji untuk mengurus anak kita, dan kena ompol adalah salah satu konsekwensinya. Insya'Allah mereka bisa paham dengan prinsip kita (kecuali klo sekolahnya gratis, bolehlah Anda segan 🙂
- Jika dirasa ia makin pintar, ajarkan bahwa air kencing itu najis. Saya membiarkan anak melihat saya cepat-cepat ke kamar mandi untuk ganti baju dan mengepel lantai seraya berkelakar, "Tuh khan.. lantai basah. Umi juga repot harus mengepel, jadi ga bisa main lagi. Jadi, jangan ngompol lagi ya..."
- Hmm... apa lagi ya? Saya sudah lupa, yang penting: learning by doing! Penting juga diingat tujuan utama menolak diapers: semua ini hanya untuk anak tercinta!

OK, berbahagialah para ibu! Waktu terlalu cepat berlalu; jangan sampai kita mengabaikan saat-saat istimewa bersama buah hati!

Update (3 Juni 2009): Alhamdulillah, saat ini saya bukan semi single-parent lagi. Saya+suami+anak sudah serumah.