#1
Dulu, ketika masih awam, saya menyangka bahwa makan sederhana, berpakaian ala kadarnya, bepergian dengan jalan kaki dsb adalah contoh-contoh bersikap zuhud. Kala itu saya sempat berpikir bahwa zuhud identik dengan tidak berharta sehingga ujung-ujungnya saya mengira bahwa miskin itu bagus dalam Islam (implikasi if-then dalam logika matematika).

Waktu berlalu dan saya mendengar ada hadits bahwasanya Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ” Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah dalam setiap amal kebaikan ” (HR Muslim dalam Kitab al-Qadar). Kuat secara fisik, mental, harta, dsb. Saya kemudian menyadari bahwa status kaya bukanlah hal yang harus dihindari. Justru karena itulah, orang kaya bisa memberi shodaqoh yang jauh lebih banyak daripada orang yang belum kaya. Bahkan dalam sebuah atsar (kisah sahabat), saya pernah membaca bahwasanya ada salah seorang sahabat Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa salam, ketika kebunnya panen, ia membagi hasil panennya menjadi tiga bagian sama rata: sepertiga dimakan sendiri (Konsumsi), sepertiga disimpan untuk musim tanam berikutnya (Tabungan), dan sepertiga sisanya untuk Shodaqoh. Rumus pengeluaran ideal (=K+T+S) inilah yang berbeda dari rumus pengeluaran konvensional yang biasa kita jumpai, yakni (=K+T) atau (=K+T+H) dengan H = bayar hutang/kredit.

Jadi, apa arti sebenarnya dari zuhud?

Terdapat sebuah hadits: Sahl bin Sa’d as-Sa’idy berkata, “Seseorang mendatangi Nabi dan bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amal, jika aku mengerjakannya aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai pula oleh sekalian manusia.” Rasul menjawab, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya kamu akan dicintai oleh Allah. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya kamu akan dicintai oleh mereka.” (HR Ibnu Majah, hasan). Salah satu contoh praktek riilnya adalah: tidak ambisius terhadap materi dan tidak pernah iri! Dan alhamdulillah, saya melihat banyak contoh zuhud duniawi ini di tempat kerja, misalnya tidak pernah terjadi ada persaingan mendapatkan jabatan Kajur atau request jatah SKS mengajar lebih banyak (yang ada justru terbalik: ingin ngajar sedikit agar fokus), dan lain sebagainya. Sungguh indah kiranya jika setiap mukmin bersikap zuhud, sebagai tanda tidak terjangkitnya penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) yang menjadikan kewibawaan kaum muslimin jatuh di hadapan kaum kafir.

#2
Salah sebuah hadits yang sering dijadikan teladan dalam itsar (mengutamakan orang lain) adalah ketika berhijrahnya kaum Muhajirin ke Madinah (penduduknya disebuh kaum Anshar -penolong-). Abdur Rahman bin Auf mengisahkan, “Ketika kami sampai di Madinah, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mempersaudarakan aku dengan Sa’ad bin ar Rabi’, maka Sa’ad bin ar Rabi’ mengatakan, “Sesungguhnya aku adalah orang Anshar yang paling kaya, maka aku akan bagikan untukmu separuh hartaku, dan silakan kau pilih mana di antara dua istriku yang kau inginkan, maka akan aku lepaskan dia untuk engkau nikahi. Perawi mengatakan, “Abdur Rahman berkata, “Tidak usah, aku tidak membutuhkan yang demikian itu.” (HR al Bukhari dan Muslim, lafal hadits milik al Bukhari)

Pertanyaan yang muncul adalah, “Apakah kita harus selalu itsar dalam segala perkara, baik duniawi maupun ukhrawi?”

Semalam saya membaca sebuah buku terjemahan Al-Qowa’id Al Arba’ karangan Sayikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab yang berjudul Gerbang Pemahaman Tauhid terbitan Pustaka Muslim. Di halaman 16 tertulis penjelasan Al Ustadz ‘Afifi Abdul Wadud tentang adab berdoa. Saya salinkan lengkapnya:
————————-
Di antara adab berdoa yang diajarkan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa salam adalah hendaknya dimulai dengan mendoakan kebaikan untuk dirinya sendiri, kemudian baru berdoa untuk kebaikan orang lain (salah satu dalilnya adalah QS Al-Hasyr 10).

Agama kita memang mengajarkan hal yang demikian. Sehingga tidak ada istilah itsar (lebih mendahulukan orang lain daripada dirinya sendiri) dalam perkara akhirat. Itsar itu berlaku dalam urusan keduniaan saja. Tetapi, beberapa fakta yang terjadi di masyarakat justru terbalik. Dalam masalah kebaikan akhirat, mereka mendahulukan orang lain. Sedangkan dalam masalah keuntungan duniawi, mereka mendahulukan dirinya sendiri daripada orang lain. Contoh penerapan itsar yang tidak pada tempatnya adalah dalam hal pengaturan shaf (jama’ah). Sebagian orang malah mempersilakan orang lain untuk menempati shaf pertama yang masih kosong, sedangkan dia justru merelakan dirinya berada di shaf belakang.

Dalam masalah agama, seharusnya kita saling berebut untuk menjadi yang terbaik dan terdepan. Keinginan berlomba-lomba dalam urusan akhirat ini sangat erat kaitannya dengan perasaan membutuhkan kebahagiaan di akhirat dan gambaran keuntungan yang akan didapatkan di akhirat nanti dengan amal-amal tersebut.
————————-

#3
Tentang hemat (meski bukan dalam konteks Ad-Dien), dalam bukunya yang berjudul “Siapa Bilang jadi Karyawan Nggak bisa Kaya?”, Safir Senduk -perencana keuangan, belum menjadi ‘ulama- mengatakan bahwa:
————————-
Selama bertahun-tahun, saya mempunyai pemahaman yang salah dengan kata “berhemat”.

Kenapa? Buat saya, berhemat sering kali identik dengan hidup menderita. Bukan satu dua kali saya mendengar orang bilang, “Kalau mau hemat, jalan kaki aja …”. Itulah kalimat yang sering dipakai untuk menggambarkan bagaimana image orang tentang kata hemat. Ibaratnya, kalau Anda biasa berkendaraan sendiri dari rumah ke tempat kerja, sekarang Anda nggak usah membawa kendaraan kalau mau hemat, jalan kaki aja.

Beberapa tahun terakhir, saya baru menyadari bahwa pemahaman saya terhadap kata “hemat” tenyata nggak benar. Hemat, adalah mencari cara agar Anda bisa mengeluarkan uang yang lebih sedikit untuk bisa mencapai tujuan yang sama. Misalnya, Anda akan pergi dari Jakarta ke Medan dengan pesawat. Anda tahu harga tiket pesawat dari airline tertentu, dari Jakarta ke Medan, katakanlah Rp.700 ribu. Anda ingin berhemat. Pemahaman orang tentang penghematan biasanya mengganti perjalanan pesawat tersebut dengan menggunakan perjalanan darat. Naik mobil, misalnya, atau naik bus eksekutif, yang berarti Anda harus menghabiskan waktu lebih dari 24 jam di perjalanan.

Tenyata yang benar, penghematan bisa juga Anda lakukan dengan mencari alternatif maskapai penerbangan lain, yang siapa tahu bisa memberikan harga lebih murah. Jadi, Anda tetap naik pesawat dan tetap menempuh jam perjalanan yang sama (kurang lebih 2 jam), tetapi dengan harga lebih murah. Dari sinilah saya lalu membuat kalimat sederhana yang sering saya munculkan ketika saya seminar: “Ketika Anda berhemat, berhematlah secara kreatif, bukan menderita…”.

————————-

Mari kita belajar zuhud yang benar, itsar yang benar, dan juga hemat yang betul! Mari mulai dari diri sendiri! Ayo!!!