Kemarin, saya meluangkan waktu 1 jam penuh untuk melihat-lihat stok laptop di sebuah toko besar di Jogja. Saya sudah punya kriteria khusus agar tidak tergoda dengan tawaran lain: layar 12 inchi, RAM 1-2 GB, dan slim weight dengan budget X juta (plafon jurusan). Saya datang dengan mengincar Lenovo ThinkPad. But qodarullah, si sales mengatakan bahwa stok tersebut kosong di Indonesia. Meski incaran saya tersebut masuk plafon, tapi karena dolar sudah menembus Rp12.000 (jatuhnya 4 juta lebih mahal), maka saya pun ditawari laptop2 lain agar ga melampaui budget. Ada Sony Vaio seri SR, Fujitsu seri S, Toshiba seri Portege, dsb. Saya pun memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan melihat-lihat tampilan fisik (chassis, keyboard) dan membandingkan spek. Sayang sekali, di ujung pencarian, tidak ada stok laptop yang memenuhi empat kriteria yang saya patok. Saya pun pamit pulang; mau mikir-mikir lagi di rumah.

Sebenarnya saat ini jurusan memfasilitasi saya dengan laptop keren: Portege seri A200. Meski ini lungsuran dari dosen senior (jadi bukan laptop baru), tapi kualitasnya sangat OK. Laptop ini sudah berchassis putih, layar 12 inchi, RAM 1 GB, slim weight, dan keyboard cukup stylish, pas dengan saya:) Laptop tersebut keluaran 2006, dan saya menerimanya dalam keadaan bagus: baterai masih kuat standby 3 jam dan semua preipheral berjalan normal.

Sayang sekali, setelah hampir setahun berada di tangan saya, baterai nge-drop abis dan LCD cukup bermasalah (mungkin karena sudah berumur). Berulang kali saya harus berhenti bekerja dengan laptop karena tiba-tiba LCD blurr (sempat BDS juga sih). Bahkan saya sempat mengajar dengan hanya menampilkan screen di layar kelas, bukan di laptop karena LCDnya cuma bisa menampilkan background hitam dan garis merah). Menitipkan laptop ke tempat servis hanya akan mengurangi produktivitas (minimal menginap 1 hari), sehingga saya memberanikan diri meminta ganti laptop ke jurusan. Alhamdulillah disetujui, bersamaan dengan rekan-rekan dosen lain. Kemarin mereka sudah ganti laptop sesuai merk yang diinginkan, sedangkan saat itu saya belum nemu laptop yang pas (agak sibuk), jadi saya tunda melulu (eh, ternyata malah sekarang dolar naik:)

Semalam, karena kurang enak badan, saya membiarkan putri saya nonton VCD "Petualangan Mimi" di laptop sendirian (biasanya disambi belajar; maklum masih batita). Karena LCD lagi-lagi rewel, akhirnya saya cuma menggerak-gerakkan LCD ke depan dan belakang sambil berharap semoga gambarnya makin jelas. Alhamdulillah, Allah mengabulkan harapan hamba-Nya yang sedang sakit. Entah dalam posisi berapa derajat, tampilan LCD pun normal senormal-normalnya. Aneh, tak sengaja, tapi alhamdulillah 🙂

Sambil istirahat, saya pun berpikir, "Seandainya punya hati, apakah laptop ini sebenarnya juga tidak ingin saya tinggalkan?" Laptop ini jelas memenuhi empat kriteria yang saya mau, tapi sayang ada komponen yang sering bermasalah sehingga saya jadi sering marah-marah. Pun si Portege ini masih bisa dipakai well meski harus selalu makan listrik dari adaptor.

Pagi ini, saya berpikir ulang, "Apakah keputusan saya mengganti si Portege ini sudah tepat?" Dengan naiknya kurs rupiah terhadap dolar dan kembalinya LCD ke keadaan normal akibat penemuan tidak sengaja, saya berpikir flashback: dunia memang berubah sangat cepat, pemikiran manusia tidak selalu rigid, dan kadang suasana hati cukup mempengaruhi pengambilan keputusan. Allahu a'lam.

*** Update: 20 Desember 2008, akhirnya kuputuskan untuk mengganti Portege A200 ini. Alhamdulillah pas hari terakhir harga promo di Computa Jogja, saya bisa memperoleh Toshiba Portege M800 E3316P: stylish&clean, Vista Premium orisinil, 3MB L2 Cache. Belum dieksplorasi lebih lanjut sih, hanyasaja kesan pertama terhadap Vista: cantik tapi rakus 🙂