Setahun yang lalu, di sebuah gang dekat rumah terpasang sebuah spanduk bertuliskan"Keluarga Besar XX mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1428H". Sebagai warga baru, saya pun berpikir bahwa Pak XX adalah orang besar di kampung sehingga ia mau memasang spanduk sebagai sarana silaturahmi. Beberapa hari berlalu, dan kemudian saya ada keperluan untuk pergi ke sekitar Timoho (makan, red:) Tiba-tiba di depan sebuah gang, mata saya menangkap sebuah spanduk lagi yang persis dan mirip dengan spanduk di kampung saya. Saya perhatikan dan ternyata benar-benar sama! Lama saya berpikir, "Mengapa spanduk yang sama dipasang di tempat yang notabene jauuuh dari kampung saya? Siapa sebenarnya Pak XX?" Sesuatu pun muncul di benak saya, "Jangan jangan, Pak XX ini sedang kampanye untuk Pilkada!" Dan ternyata anggapan saya 99% benar. Ramadhan kali ini, saya tidak menemui spanduk Pak XX lagi. Sebagai gantinya, justru saya menemui ratusan spanduk dari para caleg terpasang di jalan-jalan, lengkap dengan fotonya! Weleh, weleh.... Masya'Allah... 🙁

Bertahun-tahun lalu (masih SMU nih ceritanya), sebagian aktivis masjid ramai memperbincangkan kegiatan mereka menjelang buka puasa. Saya pun mengetahui ada beberapa ikhwan sekelas yang menjadi "mubaligh dadakan", yakni berceramah singkat seputar Dienul Islam (agama Islam, red) di bus-bus umum sambil membagikan kurma. Karena teman sekelas, tentu saya tahu dong antusiasme mereka terhadap kegiatan itu. Usut punya usut, ternyata kegiatan "ceramah menjelang buka" tersebut merupakan salah satu program sebuah partai berlabel Islam di kotaku. Saya pun membatin dalam hati, "Semoga kegiatan-kegiatan bermanfaat ini bisa berlanjut di Ramadhan tahun-tahun mendatang". Tetapi harapan saya sirna; nothing happens. Dan ketika koran ramai memperbincangkan pemilu, saya pun baru tahu bahwa kebanyakan kegiatan partai memang tergolong sebagai "money politics". Masya'Allah... pantas saja banyak kebaikan yang hanya seumur jagung, layaknya cendawan di musim hujan... :((

Beberapa bulan yang lalu, di sepanjang jalan propinsi asal saya, banyak terpampang pesan pilkada yang intinya, "Jika Anda mengaku golongan YY, maka pilihlah pasangan ZZ". YY adalah salah satu golongan kaum muslimin di Indonesia (di Saudi ga ada :D). Basis komunitas YY memang sangat banyak di propinsiku, sehingga iklan kampanye itu pun "pas", karena keberadaan massa YY selalu dijadikan sasaran empuk untuk mendukung figur-figur tertentu dalam setiap pemilu/pilkada. Miris memang... Lain komunitas, lain pula strateginya: belakangan ini, saya juga menjumpai "pengajian fenomenal". Lagi-lagi tahunya dari spanduk yang intinya berbunyi, "Jika Anda ingin memperdalam agama, silakan kirim SMS ke nomor 0XXXXXX untuk mengetahui lokasi pengajian yang dekat dengan Anda". Lho, bukankah mengajak pengajian = mengajak ke kebaikan = pahala berlimpah? Ya benar, mengajak orang berbuat baik akan menggelembungkan pundi-pundi pahala, karena RasuluLlah pun bersabda, ""Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka ia akan mendapatkan pahala sebanyak pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka ia akan menanggung dosa sebanyak dosa orang yang mengikutinya itu tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa mereka" [Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 2674]

Lalu, apa salahnya??? Kesalahannya terletak di embel-embel nama partai yang terpampang di spanduk. Lho, koq?!

Saya bukan ahli siyasah (politik, red), bukan pula muslimah sempurna yang bisa diteladani dalam segala hal. Saya hanya berbicara dalam kapasitas sebagai seorang MUSLIM. Hati saya betul-betul miris melihat banyak orang mengatasnamakan berjuang untuk membela agama yang juga saya peluk: ISLAM. Sejak bergulirnya Orde Reformasi, jumlah partai berlabel Islam sangat banyak. Bahkan hampir semuanya mengaku berlandaskan dua kitab, Al-Quran dan As-Sunnah. Tetapi dalam prakteknya, setiap partai menyeru HANYA kepada partainya sendiri, sehingga bukan Islam yang diperjuangkan , tetapi jumlah suara! Tabligh akbar, ujung-ujungnya kampanye; silaturahmi dalam segala bentuk, ujung-ujungnya kampanye; ta'lim/pengajian, embel-embelnya kampanye. Apakah para aktivis ahli siyasah itu tidak mengetahui hadits:
Dari Amirul Mu'minin Abu Hafs ‘Umar ibnu Al-Khathab radhiyalallahu ta'ala 'anhu berkata: "Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia niatkan'" (HR. Bukhari dan Muslim)

SubhanaLlah... Ya Allah, saya memohon kepada-Mu, bukakanlah hati-hati mereka ya Allah... berikanlah kebaikanMu kepada mereka ya Allah, agar mereka bersegera membersihkan amal-amal dari kotoran riya' dan sum'ah, agar amalan dan jerih payah mereka tidak sia-sia seperti gunung pasir yang terhembus angin kencang karena tidak ikhlas liLlahi Ta'ala... Amin.
Ya Allah, bukakanlah hati kami agar kami tidak pernah menyekutukanMu dengan yang lain, agar kami segera bertaubat kepadaMu, agar Dienul Haq ini benar-benar meresap dalam jiwa dan akal kami, dan agar kelak kami bisa menghadap padaMu dalam khusnul khotimah. Amin... amin... ya Mujibus Sailin...
Ya Allah, hanya kepada Engkaulah aku mengadu... berikanlah kebaikan kepada negeri ini agar kami selamat dari murkaMu. Ya Allah... ampunilah dosa-dosa kami ya Allah... Amin... ya Mujibus Sailin...