#1
Beberapa tahun yl, saya mendengar berita pemberlakuan aturan "three in one" di Jakarta yang mewajibkan mobil pribadi minimal berisi tiga penumpang jika hendak melintasi ruas-ruas jalan tertentu. [Imam adds] Aturan ini dimaksudkan oleh pemerintah agar lalu lintas menjadi lebih tertib karena sejak dulu Jakarta terkenal crowded. Tetapi, ada beberapa hal menarik yang sempat mampir ke telinga saya, yakni tentang munculnya beberapa trik dari sejumlah owner untuk menyiasati aturan tersebut: menaikkan orang (tak dikenal) di tengah jalan agar total penumpang menjadi tiga. Hal ini menimbulkan beberapa efek: owner perlu memberi BAYARAN, owner kadang-kadang diperas/tindakan kejahatan lain, bahkan baru-baru ini malah muncul efek baru: munculnya joki three-in-one.

#2
Dalam sebuah risalah yang berjudul "Biografi Syaikh Al Albany" disebutkan teladan sebagai berikut:
(Risalah ditulis murid beliau, Abu Abdurrahman Muhammad Al Khatib)

Pernah suatu ketika istriku hampir melahirkan. Sementara Syaikh selalu bertanya tentangnya. Sehari sebelum istriku melahirkan bayinya, tatkala aku akan meninggalkan perpustakaan, beliau berkata kepadaku: ”Silahkan ambil mobil ummul Fadhl [Ummul fadhl adalah istri Al-Albani yang keempat]. karena mungkin kamu MEMERLUKANNYA di tengah malam. Mobil itu kubawa selama dua hari dan ternyata benar, saat melahirkan tiba ditengah malam. Aku keluar dari rumahku, aku tidak tahu hendak pergi kemana?? setelah berupaya mencari seorang bidan dan tidak kutemukan, terfikir olehku bahwa istri Syaikh rahimahullah memiliki pengalaman dalam hal kelahiran. Aku segera menuju ke rumah beliau, sedang aku dirundung keragu-raguan karena khawatir akan mengganggu dan mengejutkannya di saat-saat seperti ini. Aku mengetuk pintu rumahnya, beliaupun menjawabku, lalu kusampaikan kepadanya permohonan maafku yang sebesar-besarnya dan memberitahukan keperluanku. Beliau menjawabku sambil bercanda : “Mengapa kamu tidak lakukan seperti Syaikhmu? Sungguh aku telah membantu sendiri istriku ketika melahirkan”. Lalu beliau melanjukkan dengan mengucapkan: “Sebentar !!! aku akan membangunkan Ummu Fadhl, dia akan pergi bersamaku”. Lalu kami pun diberi oleh Allah swt seorang putra bernama Abdullah.

Adapun mobil beliau ibarat sekor unta yang selalu mengantar teman-teman kami. Beliau mengangkut mereka dan membawanya dari suatu tempat ke tempat yang lain. Beliau katakan padaku : “Ya Muhammad, ayahku rahimahullah pernah berkata : likulli syaiin zakaatun, wazakaatus sayaarati : hamlunnaasi biha (“setiap sesuatu ada zakatnya, dan zakat mobil adalah mengangkut orang”)

#3
Bulan lalu, seorang rekan dosen kontrak -yang juga alumni sini- pernah mengatakan, "Bu, saya merasa sikap SOSIAL mahasiswa sekarang koq berbeda ya daripada zaman dulu". Saya kaget dan memintanya untuk bercerita. Ia bilang, "Zaman saya dulu, jika saya pergi atau pulang dari kampus dengan jalan kaki, banyak lho yang menawari boncengan. Sekarang, jarang, malah ga ada." Ya, kampus FTI memang terletak di bagian belakang, jadi kalo jalan dari boulevard sampai FTI ya butuh waktu lumayan, apalagi barang bawaannya berat. Kebetulan saya pernah merasakan zaman-zaman susah (halah, kayak sekarang dah makmur aja :D). Sudah pulang kesorean & ga dapat bis kampus, bawa laptop segede gaban + diktat tebal, pun diturunkan di tengah jalan gara2 jam jalan angkot Jakal memang terbatas sampe jam 6. Daripada nunggu-nunggu angkot yang tak pasti sehingga malah kehilangan waktu sholat Maghrib, ya sudah terpaksa harus call a taxi, bukan call a friend 🙁

Sejak mendengar cerita itu, saya makin bersemangat untuk membuka kaca helm dan nyamperin mahasiswi yang berjalan kaki sepanjang boulevard. Kebetulan saya selalu bawa motor sendiri, tanpa pernah membawa penumpang. Mirip tukang ojek sih, tapi cuek saja 🙂 Beda tipis... cuma terletak di upah, klo tukang ojek berharap upah uang, sedangkan saya berniat menjemput upah pahala (insya'Allah). Senang rasanya jika ada yang mau dibantu (apalagi ketika harus save energy ketika siang hari pas Ramadhan). Terkadang ada yang lucu juga, semisal calon penumpang menyapa saya, "Bu", tetapi saya belum ngeh bahwa mereka adalah mahasiswa jurusan saya sendiri 🙂

Pelajaran yang bisa diambil:
=======================
1. Sebuah kendaraan yang sama, bisa jadi menghasilkan output yang berbeda ketika menambah penumpang: (1) nambah ongkos untuk "sewa penumpang", (2) nambah pahala karena membantu si penumpang, (3) justru nambah kocek karena si penumpang yang mbayar. Tentu pahala lebih baik!
2. Terkadang, cerita ringan dari seseorang bisa menggugah empati, apalagi jika kita pernah mengalami hal serupa di masa lalu. Mungkin di saat itulah kita perlu melakukan sebuah introspeksi.
3. Aliran arus individualisme memang deras, tapi kita tidak perlu ikut arus. Bismillah!