Hamba Allah.Istri.Anak.Ibu.Dosen.Pengelola OAI UII
15 Sep
#1
Di sebuah milis, seorang rekan pernah mengatakan bahwa gaji pokok dosen baru di tempat kami lebih sedikit daripada gaji sopir bus BusWay. Banyak rekan lain yang merespon, baik pro maupun kontra. Yang pro mengusulkan perlunya revisi gaji (alias kenaikan gaji). Yang kontra menyampaikan bahwa sebenarnya gaji dosen kami jauh lebih baik daripada tetangga. Milis pun berakhir damai dengan kesadaran bahwa kita harus berSYUKUR dan tetap hidup SEDERHANA (karena uang memang menggoda untuk dibelanjakan). Alhamdulillah…
#2
Hampir 2 bulan yang lalu, seorang tetangga dekat membuka warung makan di sebelah rumah saya. Produk jualan utamanya adalah snack anak (made in pabrik). Produk lainnya adalah soto + dawet.Hari-hari pertama cukup ramai. Dawetnya cukup enak, sedangkan sotonya belum bisa direkomendasikan. Karena jualan sotonya tidak kunjung menguntungkan, ia beralih menjual produk lain, dan dawetnya di-stop. Bahkan memasuki bulan Ramadhan, di hari pertama ia menyiapkan sebuah set menu yang cukup lengkap: pecel, dawet, kolak, gorengan. Dawet+kolaknya kurang siip dibandingkan dulu. Sedangkan untuk pecel+gorengan, sebenarnya enak, tetapi karena -analisis teman- orang-orang enggan membeli lagi karena sudah ‘jera’ dengan masakannya yang pertama kali. Akhirnya, memasuki Ramadhan hari ke-7, tak ada lagi yang dijualnya kecuali snack2 anak. Dalam sehari tak lebih dari 5 anak yang membeli jajannya.
Saya jadi membayangkan berapa omzetnya per bulan dan kapan ia BEP (Break Even Point), karena ia sudah kadung membuat bangunan warung yang semi-permanen dan menyetok banyak produk. Padahal, sebentar lagi ‘Iedul Fitri: sebuah momen yang kerap diisi oleh orang awam untuk berbelanja. Bagaimana ia bisa berbelanja jika uang saja tak punya?
#3
Abu Hurairah berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya (dalam satu riwayat: paling utama)?’ Beliau bersabda, ‘Kamu bersedekah, dan kamu dalam keadaan sehat dan kikir (dalam satu riwayat: rakus). Kamu takut fakir dan mencita-citakan kaya. Namun, jangan menunda sehingga (nyawamu) sampai di tenggorokan baru kamu berkata, ‘Untuk si Fulan sekian dan si Fulan sekian, padahal benda itu telah ada pada Fulan.’” (HR Bukhari no 709)
Minggu yl, saya mendapat SMS bahagia dari bank: rekening saya telah berisi gaji ke-13
Alhamdulillah, betapa beruntungnya saya… Sebelumnya, karena mepetnya anggaran, kami hanya merencanakan shodaqoh seperti akhir Ramadhan tahun lalu. Sekarang, alhamdulillah Ramadhan ini bisa meningkat; jumlah penerima bisa bertambah, nominal shodaqoh juga.
=================================
Pelajaran yang bisa dipetik:
1. Terkadang, berapapun uang yang diterima akan bernilai sangat besar jika kita mampu berSYUKUR
2. Jika mau membuka mata, masih banyak lho orang yang hidupnya berkekurangan. Alhamdulillah, kita masih tergolong CUKUP
3. Rezeki sering datang kepada kita secara tidak terduga. Justru saat itulah, biarkan orang lain merasakan hal yang sama dengan cara berbagi rezeki kepada mereka
4. Senyampang masih di bulan Ramadhan, yuk perbanyak shodaqoh! Apalagi dalam 10 hari terakhir ![]()
16 Responses for "Gaji kecil, Rugi usaha, Shodaqoh Bertambah"
Amien
“gaji pokok dosen baru di tempat kami lebih sedikit daripada gaji sopir bus BusWay”
walopun gaji pokok dosen seperti yang dikatakan di atas,.
tetapi pahala dosen terus mengalir entah sampai kapan,.karena selalu memberikan ilmu yang bermanfaat bagi mahasiswanya…
betul….. sekali he he he h e
bagaimana bila sodakoh jangan sampai ada keraguan !
kenapa setiap saya akan memberi sodakoh ada sifat ragu
u/ Erwan:
Terus terang ilmu saya tidak banyak;
“keraguan” yang dimaksud seperti apa ya?
Apakah ragu “harta kita akan berkurang”, ataukah ragu “jangan2 si penerima tidak membutuhkan shodaqoh saya”, ataukah ragu “jangan2 Allah enggak mengganti” ataukah ragu-ragu yang lain?
Nasihat saya… banyak2 membaca buku tentang cara melembutkan hati, melihat fenomena kesusahan orang lain.
Cobalah memberikan shodaqoh kepada orang yang faqir dunia tapi punya ilmu untuk akhirat; bayangkan jika Anda menerima ucapan doa dari dia, “jazaakumullahu khoiron katsiroo” yang berarti “semoga Allah memberi balasan kebaikan yang banyak kepadamu”.
Saran saya: Jangan pernah berharap ucapan terimakasih!
betul saya setuju itu
Syukron yah… artikelnya sangat menarik… Amine deh buat semua pelajarannya…
Alhamdulillah…
Ayo, ayo, 10 hari terakhir Ramadhan datang lagi…
Ayo, ayo kita berlomba-lomba mencari ridho Allah dengan banyak bersedekah…
Wah…. artikel yang menarik,… terus menulis yaaa.. salam kenal dari Sekretariat PKK Jogja Kota. Trims
bagus thu…is the bast
sedekah memang sanngat penting apalagi jelas punya penghasilan, maka jangan tunda begitu dapat penghasilan langsung bayarkan zakatnya 2.5 % biar lunas utangnyya kepada Allah SWT
u/ Rajiman:
Shodaqoh beda dengan zakat. Sederhananya, shodaqoh bisa dikeluarkan sewaktu2, pas bokek ataupun pas kaya (bahkan senyum pun termasuk shodaqoh:)
Nah, klo ada “rumusnya”, alias sudah masuk zakat, maka kita perlu mengikuti aturan pengeluaran. Untuk zakat profesi/zakat gaji sendiri, sampai hari ini masih ada perbedaan pendapat. Saya cenderung kepada pendapat yang meniadakan zakat tsb kecuali jika dah memenuhi 2 syarat: sudah mencapai nishab (85 gram emas) dan haul (minimal 1 tahun).
Coba cek link berikut: http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fatwa-seputar-zakat-profesi.html
Kutipannya:
===============================
“Zakat gaji ini tidak bisa diqiyaskan dengan zakat hasil bumi. Sebagai persyaratan haul (satu tahun) tentang wajibnya zakat bagi dua mata uang (emas dan perak) merupakan persyaratan yang jelas berdasarkan nash. Apabila sudah ada nash, maka tidak ada lagi qiyas”
(Lajnah Da’imah lil al Buhuts al Ilmiyah wa al Ifta’, Saudi Arabia)
==============================
“Soal:
Saya seorang pegawai di sebuah perusahaan swasta dalam negeri. Gaji saya setiap bulan sebesar empat ribu riyal saudi. Termasuk uang sewa rumah sebesar seribu riyal Saudi. Apakah saya wajb mengeluarkan zakat harta? Jika wajib, berapakah jumlahnya? Perlu diketahui, bahwa tidak ada pemasukan sampingan bagi saya, kecuali gaji tersebut.
Jawab:
Apabila anda telah memiliki kecukupan atau kelebihan dari gaji bulanan Anda tersebut, maka wajib dikeluarkan zakatnya apabila telah mencapai nishab. Yaitu sekitar empat ratus riyal Saudi. Hal itu jika jumlah nishab tersebut telah berlalu satu haul (satu tahun). Apabila anda menyisihkan sejumlah uang dari gaji bulanan untuk ditabung, maka yang terbaik dan paling selamat adalah Anda mengeluarkan zakat dari uang yang Anda tabung itu pada bulan tertentu setiap tahunnya. Jumlahnya adalah dua setengah persen dari harta yang dimiliki. Semoga Allah memberi taufik kepada kita. (Fatwa Syaikh Bin Jibrin).
Saya terkadang, mau bersodakoh cuma sedikit malu, kadang terpikir jangan-jangan orang yang menerima, setelah dia membuka amplop dari saya, berkata.: ah cuma sedikit aja ngasihnya. mungkin itu hal bodoh buat saya.. setan mengganggu saya.. bagaimana saya harus menghindari semua itu..
Klo soal amplop, memang agak2 susah ya… Tips praktisnya begini saja:
1. Tekankan pada diri kita masing2 bahwa
a. “ya memang kita masih mampunya sebesar itu”. Ya jangan dibanding-bandingkan dengan orang lain yg sudah “sebesar gajah”.
b. “memberi sedikit jauh lebih baik daripada tidak memberi”. Apalagi “memberi dengan ikhlas, jauh lebih baik daripada memberi dengan rasa sombong”.
c. “pemberian ikhlas, akan membawa barokah ke si penerima. Sedangkan pemberian sombong bisa jadi cuma menjadi kesenangan yang menipu dan tidak barokah.”
2. Berikan amplop diiringi doa “semoga lain kali Allah memberi rizki lebih kepada saya sehingga saya pun bisa bershodaqoh lebih”.
3. Jangan tulis nama Anda di amplop klo Anda khawatir dicela orang
shodaqoh,adalah keajaiban dari Alloh.untuk menolong orang2 yg mau mengamalkanya dengan penuh harap
yuk rame2 shodaqoh…
tak kan pernah rugi pokoknya….
Leave a reply