#1
Di sebuah milis, seorang rekan pernah mengatakan bahwa gaji pokok dosen baru di tempat kami lebih sedikit daripada gaji sopir bus BusWay. Banyak rekan lain yang merespon, baik pro maupun kontra. Yang pro mengusulkan perlunya revisi gaji (alias kenaikan gaji). Yang kontra menyampaikan bahwa sebenarnya gaji dosen kami jauh lebih baik daripada tetangga. Milis pun berakhir damai dengan kesadaran bahwa kita harus berSYUKUR dan tetap hidup SEDERHANA (karena uang memang menggoda untuk dibelanjakan). Alhamdulillah…

#2
Hampir 2 bulan yang lalu, seorang tetangga dekat membuka warung makan di sebelah rumah saya. Produk jualan utamanya adalah snack anak (made in pabrik). Produk lainnya adalah soto + dawet.Hari-hari pertama cukup ramai. Dawetnya cukup enak, sedangkan sotonya belum bisa direkomendasikan. Karena jualan sotonya tidak kunjung menguntungkan, ia beralih menjual produk lain, dan dawetnya di-stop. Bahkan memasuki bulan Ramadhan, di hari pertama ia menyiapkan sebuah set menu yang cukup lengkap: pecel, dawet, kolak, gorengan. Dawet+kolaknya kurang siip dibandingkan dulu. Sedangkan untuk pecel+gorengan, sebenarnya enak, tetapi karena -analisis teman- orang-orang enggan membeli lagi karena sudah ‘jera’ dengan masakannya yang pertama kali. Akhirnya, memasuki Ramadhan hari ke-7, tak ada lagi yang dijualnya kecuali snack2 anak. Dalam sehari tak lebih dari 5 anak yang membeli jajannya.

Saya jadi membayangkan berapa omzetnya per bulan dan kapan ia BEP (Break Even Point), karena ia sudah kadung membuat bangunan warung yang semi-permanen dan menyetok banyak produk. Padahal, sebentar lagi ‘Iedul Fitri: sebuah momen yang kerap diisi oleh orang awam untuk berbelanja. Bagaimana ia bisa berbelanja jika uang saja tak punya?

#3
Abu Hurairah berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya (dalam satu riwayat: paling utama)?’ Beliau bersabda, ‘Kamu bersedekah, dan kamu dalam keadaan sehat dan kikir (dalam satu riwayat: rakus). Kamu takut fakir dan mencita-citakan kaya. Namun, jangan menunda sehingga (nyawamu) sampai di tenggorokan baru kamu berkata, ‘Untuk si Fulan sekian dan si Fulan sekian, padahal benda itu telah ada pada Fulan.’” (HR Bukhari no 709)

Minggu yl, saya mendapat SMS bahagia dari bank: rekening saya telah berisi gaji ke-13 :) Alhamdulillah, betapa beruntungnya saya… Sebelumnya, karena mepetnya anggaran, kami hanya merencanakan shodaqoh seperti akhir Ramadhan tahun lalu. Sekarang, alhamdulillah Ramadhan ini bisa meningkat; jumlah penerima bisa bertambah, nominal shodaqoh juga.

=================================
Pelajaran yang bisa dipetik:
1. Terkadang, berapapun uang yang diterima akan bernilai sangat besar jika kita mampu berSYUKUR :)

2. Jika mau membuka mata, masih banyak lho orang yang hidupnya berkekurangan. Alhamdulillah, kita masih tergolong CUKUP :)

3. Rezeki sering datang kepada kita secara tidak terduga. Justru saat itulah, biarkan orang lain merasakan hal yang sama dengan cara berbagi rezeki kepada mereka :)

4. Senyampang masih di bulan Ramadhan, yuk perbanyak shodaqoh! Apalagi dalam 10 hari terakhir :)